Menyelami Suasana Keindahan Pulau Tidung

Keindahan tersebut seakan tak ada habisnya, sungguh membuat siapa saja secara melihat sendiri berdecak kagum akan kompetensi Tuhan. Pulau Tidung yang populer dijuluki Maladewa-nya Indonesia, persamaan indahnya sama beserta Maladewa, pulau pada Lautan Hindia, 435 mil barat kompetensi Sri Lanka.

Pulau yang termasuk di dalam gugusan kepulauan Seribu ini sudah cukup terkenal akan keindahan pantai sekaligus kapasitas lautnya. Terbagi buat dua pulau, Tidung Besar dan Tidung Kecil, kedua pulau ini disambungkan dengan sebuah jembatan perangkat diantaranya. Tidung Buntal terbilang berpenduduk pada itu, fasilitas yang terdapat di pulau tersebut sudah cukup setia, antara lain, biro kelurahan, kantor petugas keamanan, puskesmas, sekolah, sandaran, masjid dan lain-lain. Pulau ini berpenghuni sekitar 4. 000 jiwa penduduk, namun Tidung Kecil terkenal masih jarang dihuni.

Hanya menempuh waktu dua jam saja dari Jakarta, Dikau beserta keluarga atau kerabat tercinta bisa menikmati liburan weekend yang berbeda dibanding biasanya. Berkunjunglah ke Pulau Tidung dan nikmati sensasi segar liburan kali ini.

Pekan lalu, Sabtu awal yang cerah, saya beserta rombongan secara terdiri dari 13 orang, memulai perjalanan menuju Pulau Tidung dari dermaga Kuala Angke, Jakarta Utara. Pukul 8 awal, kapal kayu sedang berbahan bakar solar, yang dijuluki “Feri” oleh warga sekitar, siap berlabuh menentang dermaga Tidung Raksasa. Sekitar 100 manusia tertampung bersama didalam kapal yang panjangnya 55 meter serta lebar 3 meter. Biaya yang pas murah, karena hanya merogoh kocek 33ribu, Anda sudah sampai di kepulauan seribu. Keselamatan pun cukup diperhatikan, karena pada setiap penumpang kapal tetap mengenakan jaket patron atau pelampung tengah dalam perjalanan, hal ini diantisipasi di menghadapi ombak dengan tak bisa diprediksi sebelumnya. Kapten bahtera pun segera meyakinkan kepada pemumpang semata untuk segera menyelidiki tempat yang cocok karena perjalanan dengan segera dimulai.

Perjalanan info pulau tidung dua jam tidak terasa, rasa sebal akan keindahan Tidung, segera terobati takkalah kapal sudah terlihat di dermaga Tidung Besar. Pagi tetap terasa, angin pesisir semilir cukup liat, cuaca sangat bening seakan matahari tersenyum lebar menyambut kita. Semua penumpang rugi satu-persatu, terlihat penuh yang tak sabar untuk menjelajahi Tidung. Senyuman ramah menyambut kami dan segala wisatawan yang berbondong-bondong tak sabar mau segera turun. Intruksi kelompok untuk segera menuju ke penyewaan sepeda yang bukan jauh dari cerocok.

Bersepeda Ria



Kereta angin, alat transportasi yang cukup terkenal serta umum digunakan bagi penduduk sekitar. Tapi bersepeda ria mengelilingi Pulau Maladewa itu tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, termasuk saya pribadi, yang sudah biasa lama tidak bersepeda. Selain sepeda, becak motor, pun menjadi alat transportasi seleksi bagi Anda secara Berkeliling pulau beserta bersepeda adalah hal yang sangat ria, kami pun lekas bergegas berjalan ke tempat penyewaan kereta angin yang tak suntuk dari dermaga. Seusai memilih sepeda yang sesuai, kami meski mulai menyusuri daratan menuju tempat wisma yang telah dipesan sebelumnya.

Kring... kring... kring.... menggowes pelan nama panggilan bersepeda santai diatas jalanan setapak paving block, sungguh mengasyikan, melewati berbagai wisma penduduk sekitar, yang cukup banyak konstruksi yang dibangun sebagai tempat penginapan, kiri-kanan jalan banyak sebab pisang, dan pohon kelapa yang menyelampai tinggi menghalangi teruk matahari, sungguh menyampaikan suasana segar.

Setelah sesampainya di lokasi penginapan, sambutan minuman kelapa muda menyegarkan mereguk haus setelah bersepeda. Seruputan air mumbang menyegarkan dan mencabut rasa lelah sesudah bersepeda.

Fasititas pondok yang kami naikkan cukup lengkap, kami menyewa sebuah graha dengan satu tempat tidur, dua tempat tidur double bed. Rumah tersebut memiliki tiga ruangan, dengan fasilitas lemari pendingin, televisi, kamar menggosok, serta air minum gratis.