Ayo Cegah Pelajar Bawa Kendaraan ke Sekolah

Termasuk peran guru yang juga semakin meluruh dihadapan siswanya. Hal tersebut dikatakan oleh pengamat pendidikan Tantan Hermansah, ia menjelaskan diperlukan peran dari berbagai pihak agar para pelajar tidak membawa kendaraan ke sekolahnya.

Larangan membawa sepda motor ke sekolah tersebut menurut dia diberlakukan demi keselamatan siswa sendiri. Sebab sesuai aturan lalu lintas, mereka yang belum memiliki SIM tak berhak mengendarai kendaraan bermotor. Para siswa SMP dan sebagian SMA tak memiliki SIM karena belum cukup usia.

Para siswa yang belum dewasa ini juga dinilai masih belum memiliki kematangan psikologis. Mereka juga akan cenderung menyimpang jika mengendarai sepeda motor. Mulai dari ngebut sampai untuk gaya. “Ini sangat membahayakan. Belum lagi jika halaman sekolah dipenuhi motor, lalu lintas juga ribet,” katanya, kepada heibogor.com, Rabu (12/08/15).

Selain itu, katanya, agar orang tua lebih memberi perhatian pada anaknya dengan mengantar mereka ke sekolah. “Butuh perhatian serius orang tua agar melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya,” ujarnya.

Terkait dengan larangan tersebut, dia berjanji akan melakukan penertiban terhadap sekolah-sekolah yang masih membebaskan siswanya untuk membawa kendaraan bermotor. “Misalnya pemkot mengeluarkan larangan kepada pelajar, dan jika masih ada orang tua yang masih mengijinkan anaknya berkendaraan, maka harus diberikan sanksi,” tegasnya.

Dosen Sosiologi UIN Jakarta yang juga lulusan IPB ini menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mensosialisasikan aturan ini, serta memberikan sanksi bagi siswa yang masih menggunakan kendaraan ke sekolahnya. "Berikan aja sanksi, agar lebih disiplin," tuturnya.

Tantan menegaskan, dengan sendirinya pemerintah harus mengagendakan rejuvenasi atau peremajaan sarana transportasi publik. “Persoalan pelajar berkendaraan itu bukan hal kecil, karena menyangkut cara berpikir, budaya, dan juga identitas sosial,” tukasnya.

Sementara, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mengaku sudah memberikan surat edaran mengenai pelarangan penggunaaan kendaraan kepada pihak sekolah. Kepala Disdik Kota Bogor Edgar Suratman menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan larangan bagi pelajar agar tidak membawa kendaraan pribadi ke sekolah.

“Larangan tersebut memang sudah lama. Kami sudah mengirimkan surat kepada seluruh kepala sekolah SMP, SMA dan SMK negeri dan swasta,” katanya. Menurutnya, ia juga meminta kepada seluruh sekolah untuk mengawasi aktivitas siswanya agar tidak menggunakan kendaraan saat beraktivitas ke sekolah.

Edgar juga menghimbau kepada para pelajar untuk menggunakan kendaraan transportasi masal (angkot) apabila hendak berangkat dan pulang ke sekolah. “Bagi para pelajar bisa menggunakan angkot kalau mau pergi dan pulang sekolah,” sarannya.

Hal ini dikeluhkan sejumlah orang tua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bogor terkait kebijakan pelarangan membawa kendaraan bermotor ke sekolah tanpa dibarengi solusi dalam mengatasi dampak yang ditimbulkannya.

Menurut Sukaersih (41), salah seorang orang tua siswa di salah satu SMA Negeri menjelaskan bahwa, ia pernah diminta oleh pihak sekolah melarang anak laki-lakinya yang baru duduk di kelas X agar tidak membawa sepeda motor lagi ke sekolah.

Soal adanya pelarangan, ia juga menilai tidak ada masalah karena anaknya memang belum berumur 17 tahun dan belum memiliki SIM. “Yang jadi masalah, lokasi sekolah tempat anak saya belajar itu jaraknya jauh dari rumah, ongkos angkot juga mahal,” keluhnya.

Ia menambahkan, padahal sejak awal ia beralasan membelikan sepeda motor untuk anaknya yang belum genap 17 tahun itu agar tidak terlambat datang ke sekolah dan mengirit ongkos.

Hal senada juga dikatakan Yulianti (38) salah seorang orang tua siswa di salah satu SMA swasta di kota Bogor, ia juga menilai larangan Disdik dirasakan belum memiliki solusi yang tepat. Sumber: bogor, hotel bogor, wisata bogor