Distribusi Benih part 3

Distribusi Benih part 3

Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Informasi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih karena mereka bisa memperoleh keterangan yang dapat dipercaya tentang mutu atau kualitas dari suatu benih (Satopo, 1985). Ada beberapa faktor fisik bagi penilaian mutu benih, ialah (Kartasoeputra,1986) :

1.      Benih yang bersih tidak tercampur dengan potongan-potongan tangkai yang kering, biji-bijian yang lain, debu dan lain-lain

2.      Warna benih; merupakan benih yang tidak berwarna terang dan tidak kusam (mengkilat). Tidak terserang cendawan Ustilagoidea sp atau Helminthosporium sp akan berwarna hitam kotor (pada benih padi biasanya tampak jelas)

3.      Berwarna kuning muda, tidak bercak-bercak hitam, besar benih normal

4.      Yang bernas atau berisi, agar mengetahuinya dirambang dalam air, yang diambil mengendap saja yang tidak cacat dan tidak bercak hitam

5.      Tidak terlalu kering, karena daya tumbuhnya kurang baik, demikian pula dengan yang terkupas kulitnya jangan diambil.

Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Manfaatnya antara lain penguji dapat menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Mengetahui komposisi benih, yaitu mengetahui apa saja yang tercampur didalam benih dan mengetahui persentase kemurnian yang sesuai dengan persyaratann benih (Kartasapoetra, 2003).

 

Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Pengujian kualitas benih dilakukan di laboratorium untuk menentukan baik mutu fisik maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian terhadap mutu fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, kadar air benih dan berat 1000 butir benih. Sedangkan pengujian terhadap mutu fisiologik benih mencakup kegiatan pengujian daya kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih (Sutopo, 2002). Menurut Mushcik, 2010 manfaat utama dari uji kemurnian benih adalah kunci utama dalam manajemen peyakinan kualitas kepada konsumen, dimana para produsen yang menguji kemurnian benih memberikan kepastian akan produk yang mereka jual .

Pengujian kemurnian benih memiliki keterkaitan dengan program sertifikasi benih karena bertujuan untuk menjamin kemurnian benih yang akan disertifikasi, untuk penulisan pada label kemasan benih. Benih unggul yang tersertifikasi harus murni dan terbebas dari hal-hal yang mengganggu benih seperti campuran kotoran atau kontaminasi benih lain pada tingkat persentase tertentu. Kegiatan pengujian kemurnian benih meliputi pengujian lapangan, pengujian laboratirium, dan pemeriksaan alat pengolahan benih, cara, dan tempat penyimpanan benih. Pengujian di laboratorium bertujuan untuk memisahkan antara benih ke dalam kelompok benih murni, kotoran benih, dan biji tanaman/varietas lain (Hardjadi, 1979).

Setifikasi benih adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menjaga kemurnian varietas secara fisik maupun genetik dari suatu pertanaman. Sertifikasi benih meliputi kegiatan di lapangan dan kegiatan di laboratorium. Kegiatan sertifikasi di lapangan berupa pemeriksaan lapangan (pemeriksaan pendahuluan, pemeriksaan fase vegetatif, pemeriksaan fase berbunga dan fase menjelang panen).  Keseluruhan proses sertifikasi tersebut dilaksanakan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT). Setiap pengajuan sertifikasi dikenai biaya sesuai dengan peraturan yang berlaku.